HUBUNGAN
DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN LANSIA DALAM MENGIKUTI POSYANDU UNTUK PENGENDALIAN
HIPERTENSI
Tantinia Wahyu Ningtiyas
S,Tr Keperawatan Lawang
ABSTRAK:
hubungan dukungan keluarga dengan
kepatuhan lansia dalam mengikuti posyandu untuk mengendalian hipertensi
mempunyai peranan penting, oleh karena itu bagi keluarga yang mempunyai lansia
harus memperhatikan kebutuhan apa yang di butuhkan oleh lansia tersebut serta
memperhatikan pula keadaan lansia, dan selalu memberikan semangat untuk
mengikuti posyandu lansia agar dapat mengendalikan hipertensi. Kualitas hidup
pada lansia dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu dukungan
keluarga. Dukungan keluarga merupakan suatu bentuk rasa kepedulian yang
dilakukan oleh keluarganya.Tetapi faktanya banyak keluarga yang kurang
memperhatikan lansia untuk mengikuti posyandu, karena banyak keluarga yang
sibuk dengan urusannya sendiri. Maka dari itu banyak lansia yang kurang
semangat untuk mengikuti posyandu.
KATA KUNCI: dukungan, keluarga, lansia,
posyandu, hipertensi.
PENDAHULUAN
Dukungan keluarga
merupakan salah satu wujud kecintaan terhadap keluarga lansia,karena keluarga
merupakan salah satu peranan penting sebagai penyemangat bagi lansia untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dengan adanya keluarga lansia dapat
terhibur dengan kegiatan yang ada di lingkungan keluarga, melalui keluarga juga
berbagai masalah kesehatan yang muncul dapat teratasi. “WHO memperkirakan
kenaikan penduduk usia lanjut dalam 2025 dibandingkan tahun 1990 dibeberapa
negara dunia Cina 220%, India 242%, Thailand 337% dan Indonesia 440%”
(Sudaryanto 2010). Angka harapan hidup orang Indonesia meningkatkan dari 65
tahunpada 1997 menjadi 73 tahun pada 2025, sehingga pada tahun 1990 sampai
2025 Indonesia akan mempunyai kenaikan
jumlah lansia sebesar 414% merupakan
angka tertinggi di dunia( Astutiet al, 2007).
SUB PEMBAHASAN
Dukungan
keluarga merupakan salah satu wujud kecintaan terhadap keluarga lansia, karena
keluarga merupakan salah satu peranan penting sebagai penyemangat bagi lansia
untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dengan adanya keluarga lansia dapat
terhibur dengan kegiatan yang ada di lingkungan keluarga, melalui keluarga juga
berbagai masalah kesehatan yang muncul dapat teratasi. “WHO memperkirakan
kenaikan penduduk usia lanjut dalam 2025 dibandingkan tahun 1990 dibeberapa
negara dunia Cina 220%, India 242%, Thailand 337% dan Indonesia 440%”
(Sudaryanto 2010). Angka harapan hidup orang Indonesia meningkatkan dari 65
tahun pada 1997 menjadi 73 tahun pada 2025, sehingga pada tahun 1990 sampai
2025 Indonesia akan mempunyai kenaikan
jumlah lansia sebesar 414% merupakan
angka tertinggi di dunia ( Astuti et
al, 2007).
Menurut
Handayani, wahyuni (2012:55) mengatakan bahwa dari 100 responden lansia, 60
orang responden memiliki dukungan keluarga yang relatif rendah dan sebagian
besar responden memiliki kategori tidak patuh dalam mengikuti posyandu lansia.
Hal
ini dikarenakan lansia yang tidak diingatkan jadwal posyandu oleh keluarganya,
di karenakan kesibukan keluarga dan kurang dorongan semangat pada lansia untuk
menghadiri posyandu lansia di lingkungan masyarakat. Hal tersebut sependapat
dengan penelitian Hidayati (2002) yang menyimpulkan bahwa intensitas hubungan
dengan orang lain tidak mempengaruhi intensitas kunjungan ke posyandu lansia. Manusia
adalah makhluk sosial, selama manusia masih hidup akan selalu berdampingan
dengan orang lain. Demikian pula dengan lansia meskipun sudah lanjut usia ingin
selalu berdampingan dan dihubungi orang lain. Setiadi (2008) berpendapat bahwa masalah
kesehatan keluarga saling berkaitan dan saling mempengaruhi antar sesama
anggotanya dan akan mempengaruhi juga keluarga yang ada disekitarnya,
masyarakat sekitar atau dalam konteks yang luas berpengaruh terhadap negara.
Peran
keluarga sangat penting pula dalam tahapan perawatan kesehatan untuk lansia ,
mulai dari tahap peningkatan kesehatan, pengobatan. Karena dukungan sosial
sangat dibutuhkan oleh individu dalam mempertahankan hidupnya, dukungan ini
akan semakin di butuhkan apabila seseorang sedang mengalami masalah yang sedang
dihadapinya (Efendi,2009). Maka dari itu lansia sangat membutuhkan dukungan
dari keluarga untuk menghadiri posyandu lansia di lingkungan masyarakat untuk
mempertahakan kelangsungan hidup pada lansia.
Menurut
Veronica (2005) lansia yang mengalami hipertensi terus menerus dan tidak
mendapatkan pertolonga atau pengobatan dan pengontrolan secara cepat dan tepat,
dapat menyebabkan jantung bekerja lebih keras, pada akhirnya kondisi tersebut
dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan pada pembuluh dara jantung, otak mata
dan ginjal.kerusakan pada jantung dapat menimbulkan gejala seperti kelelahan,
sakit kepala, kesemutan pada kaki dan tangan sehingga dapat menyebabkan
kualitas hidup pada lansia.
Fungsi
sistem tubuh lansia yang mengalami hipertensi memeiliki dampak buruk terhadap
kualitas hidup pada lansia, baik dalam skala ringan, sedang maupun berat
(Akhmadi 2009:2). Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian Kao (2008) yang
mengatakan bahwa “status kesehatan seperti hipertensi dapat mempengaruhi
kualitas hidup lansia”. Kualitas kehidupan berhubungan dengan kesehatan, dimana
suatu kepuasan atau kebahagiaan individu sepanjang dalam kehidupannya dapat
mempengaruhi mereka atau dipengaruhi oleh kesehatan. (American Thoracic Society, 2004) pernyataan tersebut didukung oleh
hasil penelitian Ibrahim (2009) yang menunjukkan bahwa 51 lansia yang mengalami
hipertensi 40 orang (78,4%) lansia mempersepsikan kualitas hidupnya. Pada
tingkat yang sangat rendah dan 11 orang (21,6%) di tingkat yang tinggi.
Kualitas hidup lansia yang sangat rendah dapat dihubungkan dengan kesehatan
fisik, kondisi psikologis, hubungan sosial dan hubungan lansia dengan
lingkungannya.
Kualitas
hidup lansia dipengaruhi oleh adanya beberapa faktor, salah satunya adalah dukungan
keluarga. Dukunga keluarga adalah salah satu bentuk kepedulian dan perilaku
melayani yang dilakukan oleh keuarga baik dalam bentuk dukungan emosional, penghargaan
atau penilaian, informasional dan instrumental (Friediman, 2010 dalam Yenni
2011)
Menurut
Sri Ayu Wulandhani, Sofiana Nurchayati,
Widia Lestari (2004:6) mengatakan bahwa hubungan dukungan keluarga
dengan motivasi lansia hipertensi dalam pemeriksaan tekanan darah menunjukkan bahwa
ada hubungan yang penting dengan p value = 0,000 < (α=0,05) yang
berarti bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan motivasi lansia
hipertensi dalam pemeriksaan tekanan darahnya, dukungan keluarga yang diteliti
meliputi dukungan informasional, dukungan emosional, dukungan instrumental, dan
dukungan penilaian. Dukungan tersebut yang terbanyak adalah dukungan
informasional dan instrumental. Keluarga responden memberi semangat kepada
responden yang paling lebih menonjol adalah dukungan instrumental di bandingkan
dukungan informasional.
Hubungan
keluarga dengan perilaku lansia dalam mengendalikan hipertensi dapat
ditunjukkan adanya hubungan antara dukungan emosional, dukungan penghargaan,
dukungan instrumental keluarga dan dukungan informasi dengan perilaku lansia
dalam mengendalikan hipertensi. Hasil penelitian tersebut variable dukungan
informasi salah satu faktor yang sangat dominan bagi perilaku lansia dalam
mengendalikan hipertens (Herlinah, 2011). Cohen dan McKay (1985) dalam Karlina
(2012) menyebutkan bahwa meskipun hampir semua keluarga dapat menyediakan
keperluan hidup anggotanya dalam bentuk
perawatan,
uang atau bantuan lainnya, bantuan langsung atau
instrumental paling cocok ketika bantuan tersebut terlihat dengan tepat oleh
orang tersebut. Sedangkan menurut Sri
Ayu Wulandhani, Sofiana Nurchayati, Widia Lestari (2004:6) Masih ada 28 lansia yang mempunyai dukungan
keluarga yang kurang dan mempunyai motivasi yang relatif rendah. Hal tersebut
disebabkan banyaknya lansia berkata bahwa keluarga memberikan dukungan yang
kurang pada lansia dan keluarga lansia kurang memperhatikan masalah kesehatan
lansia, sehingga lansia tidak mempunyai keinginan untuk memeriksa tekanan
darahnya ke posyandu lansia.
Maryam
(2008) mengatakan bahwa ”keluarga
adalah support system utama
bagi lansia dalam mempertahankan kesehatan. Peran kelurga dalam perawatan
lansia diantaranya yaitu merawat dan menjaga lansia, meningkatkan dan
mempertahankan mental, serta memberi motivasi pada lansia. Dukungan tersebut
merupakan salah satu bentuk bantuan”.
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas
dapat disimpulkan bahwa dukungan kelurga bagi lansia berperan sangat penting
untuk memberi dorongan atau memberi semangat untuk menghadiri posyandu lansia
untuk mengecek tekanan darahnya, karena setiap individu seorang akan mengalami
fase usia lanjut. Dukungan keluarga juga merupakan salah satu wujud kecintaan
terhadap keluarga lansia,karena keluarga merupakan salah satu peranan penting
sebagai penyemangat bagi lansia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Disisi lain keluarga sibuk dengan urusannya dan harus memperhatikan pula kepada
lansia dan memberikan perhatian untuk perawatan apa yang sedang dialami oleh
lansia tersebut.
DAFTAR RUJUKAN
American Thoracic Society.
(2002). Quality Of Life Resource.
Dikses tanggal 22 Maret 2014 dari download.tswj.com/2003/325251.pdf.
Astuti,
D., & Rahayu, U. B. (2007). Menjaga Kesehatan Usia Lanjut di Posyandu
Lansia Sruni.
Ferry
Efendi, M. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas: teori dan praktik dalam
keperawatan. Ferry Efendi.
Friedman,
M. M., Bowden, V. R., & Jones, E. G. (2010). Buku ajar keperawatan
keluarga: Riset, Teori dan Praktek. Jakarta: EGC, 5-6.
Hartini,
P. E. R. T. (2014). DUKUNGAN KELUARGA MEMPENGARUHI TINGKAT KEPATUHAN LANJUT
USIA DATANG KE POSYANDU. Jurnal Keperawatan, 1(2), 195-205.
Herlinah,
L., Wiarsih, W., & Rekawati, E. (2013). Hubungan dukungan keluarga dengan
perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi. Jurnal Keperawatan Komunitas,
1(2).
Kao,
C. C. (2008). Social support, exercise behavior, and quality of life in
older adults. Saint Louis University.
Karlina,
D. (2012). Studi literatur. Diperoleh tanggal 12 Juli 2014 dari http://dss.constuctivelearning.
info/?p=892.Komunitas.
LANSIA,
D. H. P. K. S. (2012). Pengaruh Senam Lansia Terhadap Tekanan Darah Lansia
Dengan Hipertensi pada Kelompok Senam Lansia di Banjar Kaja Sesetan Denpasar
Selatan.
Maryam, S. (2008). Menengenal Usia Lanjut dan
Perawatannya. Penerbit Salemba.
Setiadi.2008.
Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga Yogyakarta: Graha Illmu.
Suardana, W. I., Saraswati, N. L. G.
I., & Wiratni, M. (2010). Dukungan Keluarga dan Kualitas Hidup Lansia
Hipertensi. Denpasar, Bali.
Sudaryanto,
A. (2008). Persepsi Lansia terhadap Kegiatan Pembinaan Kesehatan Lansia di
Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Prambanan 1 Yogyakarta.
Wahyuni,
H. D. (2012). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Lansia Dalam
Mengikuti Posyandu Lansia Di Posyandu Lansia Jetis Desa Krajan Kecamatan Weru
Kabupaten Sukoharjo. Jurnal STIKES, 9, 49-50.
Wulandhani,
S. A., Nurchayati, S., & Lestari, W. (2014). Hubungan dukungan keluarga
dengan motivasi lansia hipertensi dalam memeriksakan Tekanan darahnya. Jurnal
Online Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau, 1(2),
1-10.
Comments
Post a Comment